14 Tahun Mencari Jalan Keluar, Enam Bulan Belajar Mendengar
Selama 14 tahun, Sinta (nama samaran) mengenal salep steroid untuk mengendalikan psoriasisnya. Namun setelah memutuskan berhenti dan menjalani pemulihan bersama Sentuh, ia mulai melihat perubahan nyata dalam kurang dari satu tahun.
CKJ
6/29/20264 min read




Namaku Sinta (nama samaran). Aku berusia 28 tahun dan tinggal di Bali. Sehari-hari aku adalah seorang ibu rumah tangga.
Perjalananku dengan psoriasis dimulai sekitar tahun 2012 atau 2013. Saat itu, bintik-bintik merah mulai muncul di kulitku. Awalnya hanya berupa bercak kecil, tetapi lama-kelamaan menyebar hingga hampir ke seluruh tubuh. Kulitku menebal, berkerak, dan setiap kali bergerak, kerak itu pecah hingga mengeluarkan darah. Bagian kepala menjadi salah satu area yang paling parah. Hampir seluruh kulit kepala dipenuhi luka hingga bernanah.
Jabat Tangan (dan Perpisahan) dengan Steroid
Aku kemudian berobat ke rumah sakit dan mulai menggunakan salep steroid dari dokter. Karena harganya cukup mahal, aku berinisiatif mencari salep serupa di apotek bahkan secara online. Tanpa kusadari, kebiasaan itu berlangsung sangat lama. Jika dihitung, aku sudah mengenal steroid selama kurang lebih empat belas tahun. Setiap kali dipakai, gejalanya memang tampak membaik. Tapi bukan benar-benar sembuh. Justru lama-kelamaan psoriasis yang kualami semakin meluas.
Pada September 2025, aku mulai menyadari bahwa ketergantunganku terhadap steroid bukanlah jalan keluar. Setelah banyak mencari tahu, akhirnya aku memberanikan diri berhenti total pada bulan Desember 2025.
Begitu steroid benar-benar dihentikan, kondisiku langsung memburuk. Kulitku kambuh hampir di seluruh badan. Rasanya seperti seluruh tubuh dipenuhi luka. Cairan keluar dari kulit (oozing), lalu menempel di pakaian. Setiap kali bajuku tertarik sedikit saja, kulitku kembali berdarah. Bahkan area intimku pun ikut terdampak.
Aktivitas sehari-hari menjadi sangat sulit. Aku takut berkeringat karena setiap tetes keringat terasa begitu perih di kulit. Tubuhku terasa kaku karena seluruh kulit seperti tertarik. Bagian lipatan siku sering pecah hingga berdarah. Keluargaku banyak yang menyarankan agar aku kembali ke dokter. Jujur, aku sempat terpuruk selama sekitar satu bulan. Tapi setelah itu, aku memilih bangkit lagi.
Perbedaannya benar-benar seperti siang dan malam. Dulu kulitku terasa kasar, seolah berganti kulit setiap hari. Sekarang kulitku jauh lebih halus. Yang paling membahagiakan, aku sudah bisa kembali berdagang seperti dulu. Bukan hanya kulitku yang berubah. Mentalku juga jauh lebih ringan. Aku menjadi lebih bersyukur, lebih bahagia, dan lebih percaya diri. Kadang aku sendiri masih tidak menyangka bisa sampai di titik ini.
Pengalaman ini juga mengubah caraku memandang pengobatan. Sekarang aku tidak lagi asal mengonsumsi obat atau menggunakan salep tanpa memahami risikonya.
Kalau suatu hari nanti psoriasis kembali kambuh, aku tidak akan lagi panik seperti dulu. Aku akan mengingatkan diriku sendiri bahwa mungkin kulitku memang belum benar-benar stabil. Aku hanya perlu mengulang langkah-langkah yang sudah pernah membantuku melewati masa sulit itu. Karena sekarang aku sudah tahu harus berbuat apa.
Untuk teman-teman yang sedang berjuang, satu hal yang ingin kusampaikan adalah jangan mudah tergoda dengan janji sembuh instan. Jangan mudah percaya pada iklan yang menawarkan hasil cepat, tetapi justru membuat kondisi menjadi lebih buruk di kemudian hari.
Percayalah pada proses. Ikuti panduan dengan sungguh-sungguh. Rajin mengompres menggunakan NaCl, gunakan sabun dan herbal sesuai anjuran, penuhi kebutuhan vitamin, dan yang paling penting, tetap yakin serta sabar. Aku sendiri mulai melihat hasil nyata setelah tiga bulan benar-benar mengikuti panduan yang diberikan.
Bergabung dengan komunitas Sentuh menjadi salah satu keputusan terbaik dalam perjalananku. Awalnya aku mengira adminnya galak karena sangat tegas. Tapi setelah seminggu bergabung, aku baru memahami bahwa semua itu dilakukan demi kebaikan kami yang sedang menjalani proses pemulihan. Di balik ketegasan itu, komunitas ini penuh dengan canda, dukungan, dan semangat yang membuatku sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian.
Aku berharap semakin banyak penyintas psoriasis yang tidak kehilangan harapan. Aku tahu psoriasis adalah penyakit autoimun dan remisi bukan berarti benar-benar hilang selamanya. Tetapi jika hari ini aku bisa kembali menjalani aktivitasku tanpa terus-menerus terganggu oleh penyakit ini, aku percaya orang lain pun memiliki harapan yang sama.
Kalau aku bisa mencapai remisi, aku percaya kalian juga bisa. Tetap yakin, tetap sabar, dan jangan pernah berhenti percaya bahwa selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik.


Belajar Mendengar Kulitku Lebih Dalam
Salah satu pengalaman yang paling kuingat di awal pemulihan adalah saat pertama kali mengompres luka menggunakan NaCl. Rasanya seperti seluruh tubuh disiram minyak panas. Aku juga pernah menangis sambil bertanya dalam hati, "Kapan sembuhnya? Apa aku masih bisa hidup normal seperti dulu?" Bahkan aku sempat merasa tidak percaya diri di depan suamiku.
Untungnya, aku tidak benar-benar sendirian. Aku berusaha terus menguatkan diri sendiri. Suamiku juga selalu mendukung dengan caranya sendiri. Kadang dingin, kadang sangat perhatian. Aku sering bercanda menyebutnya seperti kulkas dua pintu.
Titik balikku dimulai ketika tanpa sengaja melihat siaran langsung Kak Dila di TikTok. Hari pertama aku hanya menonton. Hari kedua, barulah aku memberanikan diri membeli herbal Sentuh. Dalam hati aku berpikir, "Mau sampai kapan aku bergantung pada salep steroid?"
Sejak bergabung dengan Sentuh, aku mulai memahami bahaya penggunaan steroid jangka panjang dan belajar lebih mencintai diriku sendiri. Aku memutuskan mengikuti seluruh panduan yang ada di komunitas. Selama tiga bulan pertama, tidur nyenyak masih menjadi kemewahan bagiku. Untuk mengurangi stres, aku sering menonton video-video lucu. Ternyata, semakin banyak aku bersyukur dan menjaga pikiranku tetap tenang, semakin besar pengaruhnya terhadap proses pemulihanku.
Selama menjalani TSW, aku tidak menggunakan produk lain selain rangkaian Sentuh dan vitamin yang dianjurkan di komunitas.
Alhamdulillah, tiga bulan setelah menjalani pemulihan bersama Sentuh, perubahan mulai terlihat jelas di kulitku. Dan sekarang, setelah enam bulan, kulitku sudah jauh lebih halus. Warnanya memang belum sepenuhnya merata, tetapi aku sangat bersyukur dengan hasil yang kurasakan.
