Enam Tahun Bergantung, Lima Bulan Belajar Melepas
Setelah enam tahun menggunakan salep racikan dokter, Dinda (nama samaran) tidak menyangka luka kecil di punggung kaki akan membawanya pada perjalanan panjang memahami TSW, melatih kesabaran, dan menemukan cara pulih secara perlahan.
CKJ
5/31/20262 min read




Namaku Dinda (nama samaran). Usia 33 tahun, dan aku tinggal di Sukabumi.
Aku mulai menggunakan salep steroid pada Juni 2019. Saat itu, aku tidak terlalu banyak bertanya soal apa isi salep racikan dari dokter kulit. Yang aku tahu, kulitku membaik saat dipakai. Jadi seperti kebanyakan manusia yang diberi sesuatu yang “langsung kelihatan hasilnya”, aku lanjut saja.
Pemakaian itu berlanjut cukup lama. Total sekitar enam tahun. Aku terus menggunakan racikan dokter kulit tanpa benar-benar memahami bahwa tubuhku mulai bergantung.
Berkenalan dengan Sentuh
Sampai suatu hari, aku menemukan penjelasan tentang TSW dari Kak Dila lewat TikTok. Awalnya cuma lewat beranda. Tapi dari sana, aku mulai membaca, menonton, dan akhirnya sadar bahwa kondisi yang aku alami bukan sekadar eksim biasa. Ada ketergantungan yang selama ini tidak kusadari.
Itu yang membuatku memutuskan berhenti total pada 11 November 2025.
Saat berhenti, kondisiku sebenarnya belum terlihat “parah” jika dibanding cerita orang lain. Flare hanya muncul di punggung kaki, ukurannya bahkan hanya sebesar uang koin. Tapi tubuhku sudah mulai memberi sinyal lain. Aku sering merasa kembung, dan ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Di hari yang sama, 11 November 2025, aku bergabung dengan komunitas Sentuh.
Belajar Mengenal Kulitku Lebih Dalam
Fase flare berat berlangsung sekitar tiga bulan. Bukan hanya kulit yang diuji, tapi mental juga. Ada masa ketika rasa sakit datang terus-menerus, dan aku sadar bahwa TSW bukan sekadar soal kulit memerah. Ia seperti ujian diam-diam: menguji seberapa kuat seseorang menahan sesuatu yang tidak bisa dipercepat.
Setelah tiga bulan, aku masuk fase transisi sekitar satu bulan. Kondisinya belum stabil, tapi mulai terasa ada perubahan. Tubuh seperti sedang menyesuaikan ulang dirinya sendiri, pelan-pelan.
Lalu masuk fase stabil dan regenerasi sekitar satu bulan berikutnya. Baru di sana aku merasa tubuhku mulai bekerja lebih tenang.
Selama proses pemulihan, aku mengonsumsi probiotic, vitamin D3 K2, zinc, herbal, dan menjalani diet eliminasi. Semua itu membantuku menjaga tubuh selama proses berlangsung. Tidak instan. Tidak ajaib. Tapi sedikit demi sedikit terasa.
Sekarang, kondisiku sudah stabil. Aku sudah bebas flare dan bisa kembali beraktivitas normal.
Kalau ditanya apa yang paling terasa dari proses ini, jawabannya sederhana: saat flare berat, mental benar-benar diuji. Banyak orang melihat luka di kulit, tapi tidak melihat bagaimana seseorang berusaha tetap tenang saat rasa sakit datang setiap hari.
Yang kupelajari justru bukan cuma tentang kulit, tapi tentang kesabaran.
Bahwa sembuh kadang tidak datang cepat. Bahwa tubuh punya waktunya sendiri. Bahwa kita hanya bisa menjalani proses sambil tetap percaya.
Untuk teman-teman yang sedang ada di fase berat, aku ingin bilang: Tetap sabar. Ikuti panduan. Kuat menahan rasa sakit. Tetap optimis.
Karena meskipun prosesnya lambat, tubuh bisa pulih. Dan suatu hari, kamu akan melihat kembali ke masa ini sebagai sesuatu yang pernah terasa mustahil, tapi ternyata bisa kamu lewati.
