Turut berduka atas bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia (NTT, Kalimantan, Sumatra, dan wilayah-wilayah lainnya). Semoga pemulihan lekas datang.
Kenapa Perjalanan Eksim Setiap Orang Bisa Berbeda?
Dua orang bisa sama-sama mengalami eksim, tetapi kondisi skin barrier, respons imun, faktor genetik, lingkungan, dan pemicunya dapat berbeda. Karena itu, perjalanan eksim seseorang tidak selalu dapat dibandingkan begitu saja dengan perjalanan orang lain.
CKJ
8/22/20262 min read




Pernahkah kamu melihat seseorang dengan eksim yang kulitnya membaik lebih cepat, lalu bertanya-tanya, "Kenapa kulitku belum seperti dia?"
Atau mungkin kamu sudah melakukan hal yang sama, tetapi hasil yang kamu dapatkan ternyata berbeda.
Hal ini tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dengan usaha yang kamu lakukan.
Eksim adalah Kondisi yang Kompleks dan Multifaktorial
Artinya, perjalanan penyakitnya dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berhubungan, termasuk kondisi skin barrier, sistem imun, faktor genetik, lingkungan, dan mikrobioma kulit. Karena itu, dua orang dengan eksim belum tentu memiliki kondisi biologis yang benar-benar sama.
Kita ambil contoh skin barrier.
Lapisan terluar kulit membantu mempertahankan air di dalam kulit sekaligus menjadi penghalang terhadap berbagai zat dari lingkungan. Pada eksim, fungsi barrier ini dapat terganggu sehingga kulit menjadi lebih mudah kehilangan air dan lebih rentan terhadap masuknya iritan, alergen, maupun mikroorganisme.
Namun, tingkat gangguan barrier tersebut tidak selalu sama pada setiap orang.
Faktor genetik juga dapat berperan. Salah satu contohnya adalah variasi pada gen filaggrin (FLG) yang berkaitan dengan fungsi epidermal barrier dan risiko eksim. Tetapi faktor genetik bukan satu-satunya penentu, karena faktor lingkungan dan mekanisme imun juga ikut berinteraksi dalam munculnya eksim.
Jadi, meskipun sama-sama mengalami eksim, kondisi awal kulit seseorang bisa berbeda dengan orang lainnya.
Aktivitas Imun yang Berbeda
Eksim juga sedikit banyak dipengaruhi sistem imun (pertahanan tubuh) kita. Ketika barrier kulit terganggu, paparan dari lingkungan dapat lebih mudah berinteraksi dengan jaringan kulit dan memicu rangkaian respons imun. Pada eksim, berbagai jalur imun, termasuk respons tipe 2 dan aktivitas berbagai sel serta sitokin, berperan dalam mempertahankan peradangan.
Namun, respons imun setiap orang tidak selalu sama.
Faktor genetik dan lingkungan dapat memengaruhi bagaimana sistem imun seseorang bereaksi terhadap rangsangan tertentu. Bahkan, penelitian mengenai eksim saat ini semakin melihat penyakit ini sebagai hasil interaksi berbagai "cara" (jalur imun), bukan dari satu jenis saja.
Itulah mengapa satu pemicu dapat memberikan respons yang berbeda pada orang yang berbeda.
Memandang Eksim sebagai Kondisi yang "Unik" pada Tiap Orang
Eksim dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi, mulai dari kondisi skin barrier, sistem imun, faktor genetik, hingga lingkungan dan pemicu yang berbeda pada setiap orang. Bahkan, bentuk dan tingkat keparahan eksim pun tidak selalu sama. Karena itu, seseorang bisa mengalami flare setelah terpapar panas dan keringat, sementara orang lain mungkin lebih sensitif terhadap iritan atau alergen tertentu.
Hal ini juga berarti bahwa perjalanan kulit orang lain tidak selalu bisa menjadi ukuran perjalanan kulit kita sendiri. Kita mungkin melihat seseorang membaik dalam waktu tertentu, tetapi tidak mengetahui kondisi awal, pemicu, maupun berbagai faktor yang memengaruhi perjalanan kulitnya.
Jadi, jika kulitmu belum membaik secepat orang lain, bukan berarti kamu gagal atau kurang berusaha. Mungkin perjalanan kulitmu memang berbeda.
Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, kita bisa menggunakan pengalaman mereka sebagai informasi, sambil tetap belajar memahami kondisi dan kebutuhan kulit kita sendiri.
Karena pada akhirnya, pemulihan bukan tentang menjadi seperti orang lain, tetapi membawa kulit kita sendiri menuju kondisi yang lebih baik.
Referensi:
Moosbrugger-Martinz, V., Leprince, C., Méchin, M. C., Simon, M., Blunder, S., Gruber, R., & Dubrac, S. (2022). Revisiting the Roles of Filaggrin in Atopic Dermatitis. International journal of molecular sciences, 23(10), 5318. https://doi.org/10.3390/ijms23105318
Novak N, Bieber T, Leung D. Immune mechanisms leading to atopic dermatitis. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 112, S128-S139
