Kenapa Usus Berhubungan dengan Eksim?
Penelitian modern menunjukkan bahwa kesehatan usus, sistem imun, otak, dan kulit saling terhubung. Tapi bagaimana sebenarnya hubungan itu bekerja?
CKJ
6/15/20262 min read




Saat membahas eksim, banyak orang langsung fokus pada kulit. Padahal, faktanya, seluruh bagian dari tubuh manusia itu saling terhubung.
Bayangkan Tubuhmu Seperti Sebuah Kota
Kulit adalah tembok pelindung terluarnya. Tugasnya menjaga tubuh dari ancaman luar seperti bakteri, alergen, polusi, dan iritan. Sistem imun adalah pasukan keamanannya. Sementara usus adalah salah satu gerbang masuk utama ke dalam kota.
Dan seperti sebuah kota pada umumnya, seluruh sistem di dalamnya sangat bergantung pada apa yang masuk melalui gerbang tersebut. Setiap hari, tubuh menerima banyak hal dari luar lewat usus: makanan, nutrisi, mikroorganisme, hingga berbagai zat lain dari lingkungan. Jika yang masuk membantu dan mendukung tubuh, sistem di dalam kota dapat bekerja dengan lebih stabil. Namun, jika yang masuk justru mengganggu keseimbangan tubuh, sistem keamanan akan mulai bereaksi.
Ada Bakteri dalam Usus Kita?
Tidak semua mikroba itu “jahat”. Di dalam usus hidup triliunan mikroorganisme yang disebut mikrobiota usus. Dalam kondisi seimbang, bakteri baik ini membantu tubuh menjalankan banyak fungsi penting, termasuk membantu mengatur sistem imun. Namun ketika keseimbangan mikrobiota terganggu, atau yang disebut dysbiosis, sistem imun tubuh dapat menjadi lebih sensitif dan lebih mudah memicu inflamasi. Dampaknya tidak hanya terasa di saluran cerna, tetapi juga bisa muncul pada kulit, termasuk memperburuk eksim.
Sederhananya, ketika “gerbang” tubuh ini terganggu, sistem keamanan tubuh juga bisa ikut bereaksi berlebihan. Saat mikrobiota usus terganggu keseimbangannya, beberapa efek yang bisa muncul adalah seperti penurunan kekebalan tubuh dan peradangan di seluruh tubuh - termasuk, bisa merembet ke masalah kulit.
Terus, Apa Hubungannya dengan Probiotik?
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Dalam analogi tadi, probiotik dapat membantu menjaga kondisi “gerbang kota” agar tetap stabil sehingga sistem tubuh dapat bekerja lebih seimbang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa probiotik tertentu dapat membantu mengurangi keparahan eksim pada sebagian orang. Probiotik sendiri bisa didapatkan lewat beberapa suplemen ataupun makanan tertentu, seperti yogurt.
Namun, penting dipahami bahwa probiotik bukanlah solusi instan atau “obat ajaib”. Efeknya bisa berbeda pada setiap individu karena tubuh manusia juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti pola makan, stres, tidur, lingkungan, dan kondisi skin barrier.
Karena itu, menjaga kesehatan usus biasanya bekerja lebih optimal jika dibarengi dengan gaya hidup yang mendukung secara keseluruhan. Itulah kenapa pendekatan terhadap eksim seringkali membutuhkan perhatian yang lebih luas daripada sekadar apa yang terlihat di permukaan kulit saja.
Referensi
Salem I, Ramser A, Isham N, Ghannoum MA. The Gut Microbiome as a Major Regulator of the Gut-Skin Axis. Front Microbiol. 2018;9:1459. doi:10.3389/fmicb.2018.01459
Lee SY, Lee E, Park YM, Hong SJ. Microbiome in the Gut-Skin Axis in Atopic Dermatitis. Allergy Asthma Immunol Res. 2018;10(4):354-362. doi:10.4168/aair.2018.10.4.354
Kim JE, Kim HS. Microbiome of the Skin and Gut in Atopic Dermatitis (AD): Understanding the Pathophysiology and Finding Novel Management Strategies. J Clin Med. 2019;8(4):444. doi:10.3390/jcm8040444
Carabotti M, Scirocco A, Maselli MA, Severi C. The gut-brain axis: interactions between enteric microbiota, central and enteric nervous systems. Ann Gastroenterol. 2015;28(2):203-209.
