Ketika Becermin Terasa Menakutkan
Bagi sebagian pejuang eksim, cermin bukan sekadar kaca. Ia bisa menjadi pemicu kecemasan, rasa malu, dan kelelahan emosional yang nyata secara psikologis.
CKJ
2/25/20262 min read




Bagi banyak orang, bercermin adalah rutinitas sederhana yang dilakukan tanpa banyak pikiran. Namun bagi sebagian pejuang eksim, momen ini bisa terasa berat, bahkan menimbulkan kecemasan.
Tidak sedikit yang mengaku menunda bercermin, menghindari kamera, atau merasa tidak nyaman saat melihat kondisi kulitnya sendiri. Respons ini sering disalahpahami sebagai reaksi berlebihan. Padahal, dari sudut pandang psikologi, ada mekanisme yang cukup jelas di balik pengalaman tersebut.
Keterkaitan Kulit dan Body Image
Dalam psikologi, terdapat konsep body image, yaitu cara seseorang memandang, menilai, dan merasakan tubuhnya sendiri. Perubahan yang tampak jelas pada kulit, seperti kemerahan, luka, atau pengelupasan, dapat memengaruhi persepsi ini secara signifikan.
Pada kondisi kulit kronis seperti eksim, perubahan yang berulang dan sulit diprediksi dapat memicu rasa malu, penurunan kepercayaan diri, kecemasan sosial, frustrasi berkepanjangan. Bagi sebagian individu, cermin kemudian tidak lagi netral, melainkan menjadi pengingat visual terhadap kondisi yang sedang dialami.
Pendekatan yang Lebih Adaptif
Mengalami ketidaknyamanan saat bercermin bukan berarti seseorang lemah. Dalam banyak kasus, ini merupakan respons adaptif dari sistem saraf yang sedang berada dalam kondisi waspada.
Beberapa pendekatan yang secara psikologis dapat membantu antara lain:
Membatasi paparan cermin saat flare berat
Melatih self-compassion
Mengalihkan fokus pada fungsi tubuh, bukan hanya tampilan
Membangun dukungan sosial yang suportif
Pendekatan ini bertujuan membantu memutus siklus stres yang dapat memperberat kondisi kulit.


Selain itu, kamu juga bisa bergabung dengan Komunitas Teman Sentuh. Di komunitas ini, kami telah membersamai lebih dari 1.000 orang pejuang eksim dan TSW untuk bersama mencapai pemulihan holistik. Kamu bisa bergabung ke komunitas Teman Sentuh lewat pembelian produk Sentuh manapun.
Yuk, mulai perjalanan pemulihan eksim secara holistik tanpa steroid!
Referensi
Courtney, A., & Su, J. C. (2024). The Psychology of Atopic Dermatitis. Journal of Clinical Medicine, 13(6), 1602. https://doi.org/10.3390/jcm13061602
Hubungan Dua Arah antara Stres dan Kulit
Yang perlu dipahami, hubungan antara kondisi psikologis dan kulit bersifat dua arah. Stres yang dialami secara psikologis diketahui dapat meningkatkan inflamasi, memperburuk rasa gatal, mengganggu fungsi barrier kulit, dan memicu flare pada sebagian penderita eksim. Dengan kata lain, kecemasan saat bercermin bukan hanya berdampak secara emosional, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi kulit secara fisiologis.
