Turut berduka atas bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia (NTT, Kalimantan, Sumatra, dan wilayah-wilayah lainnya). Semoga pemulihan lekas datang.
Pulih Luar dan Dalam: Perjalananku Bangkit dari Badai TSW dan Gejolak Mental
Menghadapi peradangan TSW hebat yang menyerang hampir seluruh tubuh hingga mengganggu kesehatan mental, Maya (nama samaran) perlahan menemukan kembali kualitas hidupnya melalui kesabaran, kombinasi perawatan holistik, dan sikap ikhlas.
CKJ
8/31/20262 min read




Namaku Maya (nama samaran), usia 25 tahun.
Kalau mengingat kembali, perjalanan TSW-ku dimulai pada pertengahan tahun 2024. Saat itu eksim yang kualami tak kunjung sembuh, semakin menyebar, dan pengobatan biasa sudah tidak lagi mempan. Baru pada awal tahun 2025, aku benar-benar sadar bahwa apa yang kualami adalah Topical Steroid Withdrawal (TSW).
Alasan aku memutuskan berhenti menggunakan steroid sebenarnya sederhana.
Aku mulai sadar bahwa kondisi kulitku bukan semakin membaik, melainkan terus memburuk setiap kali gejala muncul. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres ketika ruam merah terus menyebar disertai bintil berair dan rasa gatal yang sangat intens. Lama-lama aku lelah berada dalam siklus yang sama.
Berpisah dengan Steroid
Awalnya timbul ruam merah yang menyebar, gatal luar biasa, hingga luka basah. Tidak berhenti di situ, dampak fisik ini berembet hingga membuat rambutku rontok parah dan aku sangat kesulitan untuk tidur.
Kondisi fisik yang drop ini akhirnya berdampak serius pada mental dan emosionalku. Aku sempat mengalami depresi, rasa cemas yang terus-menerus, hingga panic attack yang membuatku harus mengonsumsi obat psikiatri. Keluhan paling berat kurasakan merata di hampir seluruh tubuh—mulai dari leher, perut, punggung, lengan, siku, pergelangan tangan, hingga paha, lutut, betis, dan kaki.
Perjalanan pemulihanku berlangsung secara bertahap.
Sekitar satu bulan menjalani Fase 1, dilanjutkan empat bulan di Fase 2, serta empat bulan berikutnya hingga aku saat ini berada di Fase 3.
Selama proses itu, aku berusaha menjalani semuanya dengan konsisten. Aku menerapkan diet eliminasi, mengonsumsi herbal, suplemen, vitamin D, zinc, magnesium, omega-3, probiotik, hingga antihistamin. Untuk perawatan luar, aku menggunakan kompres NaCl, semprotan PHMB/HOCl, moisturizer, serta tallow balm jika diperlukan. Aku juga tetap mengimbanginya dengan olahraga ringan dan meditasi untuk meredakan stres.
Kalau dihitung sejak awal mengalami kondisi ini pada pertengahan 2024, aku membutuhkan waktu sekitar 9 bulan lebih hingga benar-benar merasa berada di titik aman dan kondisi kulit kembali stabil.


Jalan Menuju Pulih
Hari ini, aku sangat bersyukur karena kondisiku sudah stabil.
Rasa terbakar (burning), luka basah, bengkak, dan penebalan kulit kini sudah hilang. Aku bisa kembali beraktivitas normal dan kualitas tidurku sudah kembali seperti sedia kala. Walau sesekali flare ringan masih muncul 1–2 kali dalam sebulan selama 1–3 hari—disertai sedikit rasa gatal, kulit sensitif, serta sisa hiperpigmentasi dan hipopigmentasi—kondisiku secara keseluruhan jauh lebih baik.
Kalau ada satu hal yang ingin kusampaikan kepada teman-teman yang saat ini masih berjuang melawan TSW, pesanku sederhana.
Kurangi stres, fokuslah pada progres kecil setiap harinya, dan be kind to yourself. Pasrah dan ikhlas menerima keadaan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk kedamaian diri selagi kita terus berusaha. Doaku akan selalu menyertai kesembuhan teman-teman semua.
Healing is possible.
Dan teruntuk kakak-kakak komunitas Teman Sentuh:
Terima kasih banyak untuk semua sharing, panduan, dan ilmu yang luar biasa selama ini. Terima kasih sudah menemani prosesku hingga bisa pulih dan kembali utuh.
